Picture
AGAMA hadir di muka bumi sebagai rujukan bagi umat manusia untuk bisa memaknai hakikat kehidupan, mereguk kesempurnaan hakiki, dan untuk menghadirkan harmoni hidup. Agama tidak saja berkaitan dengan usaha membangun relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, namun juga menuntun umat manusia untuk memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan dan alam semesta.

Berbagai agama dan kepercayaan yang disemai oleh anak Adam nampaknya memberikan banyak arti bagi pluralitas kehidupan. Pluralitas ini menuntut setiap individu untuk memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan dan perbedaan antara satu dengan yang lain serta memiliki banyak pilihan untuk membuka dan mengakhiri langkah hidupnya. Artinya, perbedaan agama dan pilihan orang untuk berkeyakinan adalah sebuah keniscayaan yang Dia ciptakan untuk menjadi berkah sekaligus ujian bagi umat manusia.

Membangun kehidupan antarumat beragama yang damai bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Kedewasaan akan pluralitas tidak saja harus dibangun dari pemahaman ajaran secara mendalam, namun ia juga membutuhkan proses kultural yang dipupuk dalam waktu yang tidak singkat. Ketidakdewasaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan menjadikan umat beragama sering terjebak dalam gesekan, pertentangan, konflik bahkan kekerasan yang semua itu sama sekali tidak pernah diajarkan oleh agama manapun. Rentetan konflik antaragama dan keyakinan yang kerap terjadi di negeri ini membuktikan bahwa keragaman yang telah lama hadir di bumi nusantara nyatanya belum tentu menjadi jaminan bahwa kedewasaan akan keragaman bisa dimiliki secara utuh. Proses membangun kehidupan bersama secara damai antarkeyakinan nampaknya menjadi upaya yang tidak pernah usai. Kedamaian dalam keragaman harus disemaikan terus menerus dan diwariskan kepada setiap generasi.

Setiap entitas agama dan kepercayaan tentunya memiliki bahasa tersendiri dalam mengkonstruksi hubungan kemanusiaan lintas keyakinan. Hal ini mengharuskan hubungan sosial keagamaan diurai dari pemahaman ajaran yang jernih. Namun setiap agama pasti mengajarkan tentang kemanusiaan, tentang perdamaian, dan tentang cinta kasih. Inilah bahasa universal yang mampu mempertemukan perbedaan keyakinan. Dalam tataran isu strategis, bahasa yang sering dipergunakan sebagai istilah bersama adalah toleransi, pluralisme, dan multikulturalisme.

Ketiga idiom ini dalam esensinya memiliki irisan besar dengan gagasan demokrasi. Dalam demokrasi, sebuah bangunan bersama didirikan atas dasar pluralitas dan disangga melalui kontrak sosial yang disepakati bersama. Keragaman etnis, suku, agama, dan kepercayaan akan bisa hidup dalam payung demokrasi ketika nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dijunjung tinggi oleh semua orang... di sarikan dari berbagai buku serta literatur yg dibaca penulis......

 


Comments




Leave a Reply